2.2. Manfaat Pupuk Hijau Terhadap Ketersediaan C-Organik dan N

30 April 2009 at 15:43 (PUPUK HIAJU) (, , , , )

Pupuk hijau merupakan pemanfaatan hijauan tanaman yang belum terdekomposisi kedalam tanah yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi tanaman (Rachman Sutanto, 2002). Pupuk hijau yang digunakan berasal dari hijauan tanaman legum, karena tanaman legum mampu memfiksasi N bebas dari udara dengan bakteri penambat N sehingga kadar N yang terkandung didalam tanaman relatif tinggi.

Akibatnya pupuk hijau dapat diberikan dekat waktu penanaman tanpa harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu (Afandie Rosmarkam dan Nasih, W.Y, 2002). Selain sumber nitrogen keuntungan dalam pemberian pupuk hijau lainya adalah mensuplai bahan organik tanah, meningkatkan proses biokimia dalam tanah karena melalui bahan organik yang berasal dari hijauan tanaman merupakan sumber makanan bagi jasad renik tanah dan bertendensi merangsang perubahan biologis. Proses biokimia mempunyai peranan dalam memproduksi CO2, NH4, NO3 dan pembentukan senyawa sederhana lainnya (Nurhajati Hakim et al, 1986).

Goeswono Soepardi (1983) menyatakan suatu tanaman pupuk hijau yang ideal harus mempunyai 3 sifat utama : (1) cepat tumbuh, (2) bagian atas yang banyak dan sukulen, dan (3) kemampuan tumbuh pada tempat yang kurang subur. Menurut pendapat Rachman Sutanto (2002) kriteria untuk memilih jenis tanaman pupuk hijau yang baik yakni : produksi biomassa tinggi, sistem perakaran dalam, awal pertumbuhan cepat, lebih banyak daun dari pada kayu, mampu menyemat N, hubungan baik dengan mikoriza, memanfaatkan air secara efisien, bukan tanaman inang hama, tidak mempunyai akar rimpang, pembentukan biji mudah dan tanaman multiguna. Selain itu tanaman pupuk hijau harus memenuhi syarat tahan kekeringan dan banyak mengandung N (Sarwono Hardjowigeno, 2003).

Pupuk hijau (terutama legum) dapat dibagi kedalam tiga golongan : (1) pupuk hijau yang berbentuk pohon dipakai sebagai naungan atau sebagai pohon pelindung, misalnya Leucaena sp (lamtoro), Sesbania grandiflora , dll. (2) pupuk hijau berbentuk perdu, misalnya Crotalaria sp, Flamingia fongesta, dll. (3) pupuk hijau berbentuk semak, misalnya Calopogonium mucunoides, Pueraria javanica, Centrosema sp, Mimosa invisa.(Nurhajati Hakim et al, 1986).

Calopogonium mucunoides termasuk dalam sub famili Papilionaceae, tumbuhan ini termasuk kedalam pupuk hijau berbentuk semak/ menjalar pada permukaan tanah dan mampu membelit keatas tanaman yang tumbuh diatasnya. Perakaran tanaman berbentuk serabut yang banyak dijumpai bintil akar yang mengandung bakteri Rhizobium. Selama ini Calopogonium mucunoides digunakan sebagai tanaman pionir dalam merehabilitasi lahan terdegradasi akibat erosi, pada perkebunan sawit dan karet digunakan sebagai tanaman penyubur tanah (Purwanto, 2007). Hasil analisis menunjukkan kandungan hara makro didalam daun Calopogonium mucunoides terdiri dari N-total sebesar 4,6%, P-tersedia 0,52 (mg kg-1), K 2,11 (cmol kg-1) (Onwu et al,. 2005).

Pueraria javanica termasuk dalam sub famili Papilionaceae dengan pertumbuhan menjalar dan merambat ke arah kiri, mempunyai batang yang kuat, perakaran dalam dan membentuk umbi. Tumbuhan Pueraria javanica banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penutup tanah,
pencegah erosi, sumber pupuk hijau, pemberantas alang-alang dan pakan ternak (Purwanto, 2007). Pueraria javanica memiliki kandungan hara N 2,56%, P0,22%, K 1,90% , C-organik 40,198% (Febrina, 2004).

Menurut Moch Munir (1996) Penambahan bahan organik pada Ultisol akan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan organik yang telah terdekomposisi akan menghasilkan nutrisi tanaman. Sarwono Hardjowigeno (2003) bahwa pada beberapa tanah masam, pupuk organik dapat meningkatkan pH tanah, karena pupuk organik mampu menetralkan Al dengan membentuk Al-organik melalui asam humik yang terkandung pada setiap pupuk organik yang bertindak sebagai penyangga tanah sehingga dapat memberikan fleksibilitas perubahan reaksi tanah, sedangkan H+ yang terdapat pada misel tanah tetap sehingga pH tanah yang terukur meningkat dan perubahannya berpengaruh secara bermakna.

Hasil penelitian Abdul Syukur & Nur Indah M (2003) pemberian pupuk organik sebanyak 10 ton/ha mampu meningkatkan kadar C-organik tanah dari 1,35% menjadi 1, 785 % dan tidak berbeda nyata dengan dosis pupuk organik 20 ton/ha, selain itu juga mampu meningkatkan N-total tanah dari 0,075% menjadi 0,109% dan tidak berbeda nyata dengan dosis pupuk organik 20 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hijau Sesbania rostrata dengan dosis 5 ton/ha pada Ultisol mampu meningkatkan kandungan C-organik tanah dari 1,505% menjadi 1,863% dan meningkatkan nitrogen total tanah dari 0,114% menjadi 1,146% (Abdul Hadison, 2004).

Hasil penelitian Yudhi Ahmad Nazari (2003) pemberian Calopogonium dengan dosis 60 kg N/ha menunjukan nilai pH tanah 6,34 lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk anorganik yang memiliki nilai pH hanya 6,07 pada 105 hari setelah tanam. Peningkatan pH ini terjadi akibat adanya proses dekomposisi bahan organik yang diberikan menghasilkan kation-kation basa sehingga mampu meningkatkan pH tanah. Selain itu nilai unsur N yang tertinggal pada pengamatan 150 hari setelah tanam didalam tanah dengan dosis setara 120 kg N/ha dari jenis pupuk kandang ayam dan biomassa Tithonia memiliki nilai yang sama dengan unsur N dari pupuk anorganik sebesar 0,21%, sedangkan Calopogonium pada dosis 120 kg N/ha memiliki nilai N yang sedikit lebih
tinggi yakni 0,22%.

daftar pustaka:

Abdul Hadison. 2004. Pengaruh Pemberian Sesbania rostrata dan Pupuk Urea Terhadap Sifat Kimia Ultisol, Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.). Skripsi S1 Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Jambi 49 halaman.

Abdul Syukur & Nur Indah M. 2003. Kajian Pengaruh Pemberian Macam Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Jahe Di Inceptisol, Karanganyar. Dalam Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 (2) (2006) p: 124-131. Yogyakarta.

Afandie Rosmarkam dan Nasih Widya Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta

Febrina. 2004. Kontribusi Berbagai Jenis Tanaman Penutup Tanah (Cover Crop) Terhadap Perbaikan Beberapa Sifat Kimia Ultisol Lahan Alang-Alang. Skripsi S1 Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Jambi 60 halaman.

Goeswono Soepardi. 1983. Sifat dan ciri tanah. Departemen Ilmu tanah Fakultas Pertanain IPB. Bogor.

Moch Munir. 1996. Tanah-tanah Utama di Indonesia. Karakteristik, Klasifikasi

Nurhajati Hakim., Yusuf Nyakpa. A.M Lubis. Sutopo G.N, Amin Diha, GO Ban Hong, dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah Universitas Lampung.

Purwanto.2007. Mengenal Lebih Dekat Tanaman Leguminosae. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Rachman Sutanto. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 219 halaman

Sarwono Hardjowigeno. 2003. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta

Sarwono Hardjowigeno. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta

Yudhi Ahmad Nazari. 2003. Pengaruh Pemberian Jenis Dan Dosis Pupuk Organik Serta Pupuk Anorganik Terhadap Kesuburan Tanah Tanaman Kentang. Mahasiswa Pasca Sarjana Unibraw. Malang.

Permalink 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.